Narkoba di Kalangan Artis


Fenomena pemakaian narkoba jenis sabu memang bukan hal baru di kalangan artis.
Sabu murni berbentuk kristal putih. Ini merupakan golongan obat stimulan jenis metamfetamin yang satu derivat turunan dengan amfetamin yang terkandung dalam pil ekstasi. Banyak orang menggunakan zat ini untuk mendapatkan efek psikologis.
Efek yang paling diinginkan adalah perasaan euforia sampai ekstase (senang yang sangat berlebihan). Obat ini juga menimbulkan efek meningkatnya kepercayaan diri, harga diri, dan peningkatan libido. Pemakai sabu bisa tampil penuh percaya diri tanpa ada perasaan malu sedikit pun dan menjadi orang yang berbeda kepribadian dari sebelumnya.
Salah satu yang mungkin menarik banyak orang untuk memakai zat ini adalah pemakaian zat ini tidak dibarengi dengan efek sedasi atau menurunnya kesadaran akibat zat tersebut. Tidak seperti pemakai heroin atau ganja, pemakai sabu dapat membuat dirinya untuk tetap membuat terjaga dan konsentrasi.
Selain efek yang menyenangkan di atas, sebenarnya sabu juga membuat timbulnya gejala-gejala psikosomatik, paranoid, halusinasi, dan agresivitas. Kelebihan pemakaian obat ini akan membuat orang menjadi mudah tersinggung dan berani berbuat sesuatu yang mengambil risiko.

Jika melihat efeknya yang menyenangkan di atas, terutama berkaitan dengan percaya diri tampil dan peningkatan keberanian, maka tidak heran banyak artis yang senang menggunakannya. Dengan alasan ingin menambah proses kreatif, sabu pun terkadang digunakan.
Satu lagi alasan memakai sabu adalah membuat orang tidak ingin makan. Tidak heran, zaman dulu obat golongan ini juga banyak digunakan untuk melakukan diet walaupun saat ini sudah ditinggalkan karena efek ketergantungan dan kerusakan otak

Para artis kebanyakan, tidak saja di Indonesia, menyukai pergaulan dan interaksi sosial yang glamour. Glamour di sini berkonotasi kehidupan hura-hura dan eksklusif. Identik pula dengan pesta pora kaum jetset (orang berduit-pen)
Seringkali kehidupan glamour berlangsung di malam hari. Coba perhatikan dari jam berapa sampai jam berapa sebuah diskotik atau night club dibuka. Pada dasarnya bukan keberadaan tempat-tempat tersebut yang salah. Kita pun tidak boleh sembarangan menuding bahwa tempat-tempat tersebut yang menjadi arena peredaran narkotika.

Saat kita masuk ke dalam sebuah diskotik dan sejenisnya tentu kita membaca peraturan bahwa tidak dibenarkan membawa segala sesuatu, sampai pada minuman ringan sekalipun, masuk ke dalam tempat-tempat dimaksud. Apabila ketahuan akan menjadi tanggung jawab pengunjung sendiri.
Namun demikian, suasana yang disajikan di tempat-tempat hiburan malam tersebut seringkali disalahgunakan. Oke-lah transaksi tidak terjadi di situ, akan tetapi informasi dari berbagai jenis pengunjung yang ada, tentu bisa saja didapat. Tergantung pada tingkat kepercayaan si pemberi informasi. Perlu dicatat pula, bahwa informasi bukan cuma bisa diperoleh di tempat-tempat hiburan malam. Mungkin malah di gang-gang atau di lorong-lorong.

Terseret atau tidaknya seorang artis dalam lingkaran setan peredaran dan penggunaan narkotika sangat tergantung sejauhmana sang artis menyikapi ketenarannya atau kejatuhannya dari puncak ketenaran. Efek yang timbul kerap sama. Tenar dan banyak uang untuk dihambur-hamburkan. Sebaliknya depresi takut miskin menjadi penyebab lain seorang artis berusaha melarikan diri dari kenyataan dengan mengkonsumsi narkotika.
Pada kenyataannya, agar dapat selalu eksis dalam bidang entertainment maka lingkungan pergaulan seorang artis juga banyak berpengaruh. Jika sang artis yang bersangkutan dianggap menjauhi lingkungan tersebut atau mencoba memberi jarak, lingkungannya pun secara spontan tidak mendukung kariernya.

Hal ini hampir serupa dengan eksistensi seorang politikus yang sedang mencari dukungan. Jangan pernah berlaku pelit kepada konstituen juga para team suksesnya kalau tidak ingin kehilangan dukungan yang biasanya dilakukan secara spon tan pula. Payah, pelit! Kata mereka. Boros saja belum tentu didukung, apalagi pelit.
Menurut pengalaman yang terjadi pada artis-artis yang berkasus sama, sebut saja para personil grup band Slank, untuk bisa mengontrol antara pergaulan dan kehidupan normal, mereka butuh seseorang yang berfungsi sebagai pemerhati khusus yang bisa juga berfungsi sebagai manajer, yang diambil dari keluarga sendiri, yaitu: Ibunda dari salah seorang personil.
Alhasil, konsep manajerial artis seperti ini bermanfaat dan dapat dijadikan model. Tidak tertutup kemungkinan untuk memakai seorang manajer diluar kalangan keluarga, namun perlu diperhatikan integritasnya. Memang sulit bukan berarti tidak ada.

Pemakai boleh dikatakan sebagai korban, boleh pula dikatakan sebagai orang yang bodoh dan dibodoh-bodohi. Bertolak dari sudut pandang ini tidak selayaknya masyarakat lantas menganggap mereka rendah.
Apabila kita menganggap mereka rendah, sama artinya merendahkan aparat pemberantas peredaran narkoba itu sendiri. Pemakai hanya bisa memakai kalau barangnya ada. Darimana asal barang tersebut tentu karena ada produsen atau penyeludup dan pengedar. Penangkapan pemakai narkotika oleh aparat sangat bisa dijadikan langkah awal untuk mengungkap pengedar dan produsennya, jika dikembangkan.

Media massa akhir-akhir ini gencar mempublikasikan penangkapan orang dan narkotika yang diseludupkan dari luar negeri. Masalahnya penerapan hukum di Indonesia tentang peredaran dan produksi narkotika dan zat-zat berbahaya tersebut masih dianggap ringan. Belum lagi ketika kita bicara masalah oknum-oknum aparat nakal yang masih saja ada sampai sekarang.
Jujur saja, harga jual narkotika cukup tinggi. Dengan hasil penjualannya, para pengedar sangat mungkin membungkam mulut oknum aparat. Di penjara saja barang haram tersebut masih bisa beredar. Mungkinkah petugas penjara benar-benar tidak mengetahui peredaran narkotika di areal yang relatif tidak luas tersebut. Semua fakta itu menjadi penyebab mengapa peredaran narkotika di berbagai negara sulit ditumpas habis. Tetapi sulit bukan berarti tidak bisa.

sumber:kampungbenar.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s